Total Pageviews

Monday, 10 March 2014

pengertian pendidikan islam



BAB I
Pendahuluan
            Dilihat dari segi tujuan Agama Islam diturunkan Allah kepada manusian melalui utusan-Nya tidak lain adalah untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam.
            Tujuan tersebut mengandung implikasi bahwa Islam sebagai Agama wahyu mengandung petunjuk dan peraturan yang bersifat menyeluruh, di mana sekalian alam ini akan memeroleh rahmat secara menyeluruh, meliputi kehidupan duniawi dan ukhrawi, lahiriah dan batiniah, jasmaniah dan rohaniah.
            Sebagai agama yang mengandung tuntutan yang komprehensif, Islam membawa sistem nilai-nilai yang dapat  menjadikan hamba Allah mampu menikmati hidupnya dalam situasi dan kondisi serta dalam ruang dan waktu. Kehendak khaliknya seperti tercermin di dalam segala ketentuan syari’at Islam serta aqidah yang mendasarinya.
            Suatu pola kehidupan yang ideal demikian itulah yang hendak dibentuk melalui proses kependidikan yang dikehendaki oleh Islam. Dilihat dari segi metodologis, proses kependidikan Islam demikian adalah adalah tujan akhir yang hendak dicapai secara bertahap dalam pribadi manusia. Dengan istilah lain bahwa pendidikan Islam melakukan internalisasi ajaran Islam secara bertahap ke dalam pribadi manusia yang berlangsung sesuai tingkat perkembangannya.
            Dengan demikian, proses pendidikan Islam bertugas pokok  membentuk kepribadian Islam dalam diri manusia selakumakhluk individual dan sosial. Untuk tujuan ini, proses kependidikan Islam memerlukan sistem pendekatan yang secara strategis dapat dipertanggungjawabkan  dari segi pedagogis. Dalam hubungan inilah, Pendidikan Islam memerlukan barbagai ilmu pengetahuan yang relevan dengan tugasnya termasuk sistem pendekatannya.
            Pandangan dasar yang dapat mengarahkan Pendidikan Islam kejenjang keberhasilan, merupakan prasyarat yang perlu dipenuhi melalui berbagai daya dan upaya ilmiah. Prasyarat demikian diwujudkan dalam bentuk pemikiran-pemikiran teoritis dan praktis yang berlanjut dengan pembentukan “sistem keilmuan” kependidikan Islam yang bulat.[1]









                    









BAB II
Pengertian dan Tujuan Pendidikan Islam
A.    Pengertian Pendidikan Islam
Kata “pendidikan” yang umum kita gunakan sekarang dalam bahasa arab disebut “tarbiyah”, dengan kata kerja “rabba”. Kata “pengajaran” dalam bahasa arabnya “ta’lim” dengan kata kerjanya “ ‘allama”. Pendidikan dan Pengajaran dalam bahasa Arabnya “tarbiyah wa ta’lim” sedangkan “Pendidikan Islam” dalam bahasa arabnya “Tarbiyah Islamiyah”.[2] Atas dasar itulah, al-Attas menyatakan bahwa pengertian pendidikan islam dalam pengertian yang komprehensif sudah tercakup dalam istilah ta’dib sehingga tak perlu lagi mengacu pada istilah tarbiyah,ta’lim, dan ta’dib sekaligus, sebagaimana pernah disarankan dalam Komprehensi Dunia Pendidikakn Islam yang pertama di Makkah pada tahun 1997 yang lalu.[3]
Pengertian pendidikan terbagi kepada dua, yaitu pengertian pendidikan secara luas dan pengertian pendidikan secara sempit. Alfred North Whitehead mengambil pengertian pendidikan yang sangat sempit. Ia menyatakan bahwa pendidikan adalah pembinaan keterampilan menggunakan pengetahuan (Park, 1990:253). Lodge (1974:23) menyatakan bahwa pendidikan dalam arti sempit malahan sekedar pendidikan di sekolah. Pengertian pendidikan secara luas ialah pengembangan pribadi dalam semua aspeknya, dengan penjelasan bahwa yang dimaksud pegembangan pribadi ialah yang mencakup pendidikan oleh diri sendiri, lingkungan, orang lain atau guru. Seluruh aspek mencakup jasmani, akal, hati.[4]
Marimba (1989:19) menyatakan bahwa pendidikan ialah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani. Tapi, defenisi pendidikan menurut Marimba ini belum mencakup semua yang kita kenal sebagai pendidikan. Defenisi itu mencukupi bila kita membatasi pendidikan hanyalah yang berupa pengaruh seseorang kepada orang lain, dengan sengaja (sadar).[5]
Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha yang dilakukan seseorang (pendidik) terhadap seseorang (anak didik) agar tercapai perkembangan maksimal yang positif.
            Kata “ islam” dalam “pendidikan islam” menunjukkan warna pendidikan tertentu, yaitu pendidikan yang berwarna islam, pendidikan yang islami, yaitu pendidikan yang berdasarkan islam.[6]
Seminar Pendidikan Islam di Indonesia yang dilaksanakan oleh Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta ( BKS-PTIS ) Di Jakarta tahun 1979 membuat rumusan tentang pengertian pendidikan islam sebagai berikut :
“Pendidikan Islam ialah usaha yang berlandaskan al-islam untuk membantu manusia dalam mengembangkan dan mendewasakan kepribadiannya,baik jasmaniah maupun rohaniah untuk memikul tanggung jawab memenuhi tuntuna zamannya dan masa depannya.”
Definisi di atas pada dasarnya hampir tidak berbeda dengan defenisi-defenisi yang di ajukan oleh pakar pendidikan pada umumnya, kecuali hanya menambahkan bahwa pendidikan yang dimaksudkan berlandaskan pada ajaran islam. Tetapi suatu hal yang perlu di catat disini ialah,bahwa kedewasaan yang dimaksudkan di sana adalah kedewasaan “kepribadian” dan bukan sekedar kedewasaan fisik.
Hakikat pendidikan islam adalah terbinanya kesempurnaan kepribadian peserta didik, yang disebut sebagai kepribadian al-Fadhilah, yaitu suatu kepribadian yang meneladani nilai-nilai kepribadian yang dicontohkan oleh Nabi SAW, baik sebagai pandangan hidup maupun keterampilan hidup untuk menumbuhkan potensi rohaniyah dan jasmaniyah yang dimiliki peserta didik.[7]
Pengertian Etimologi Pendidikan Islam
Pendidikan dalam wacana keislaman lebih populer dengan istilah tarbiyah, ta’lim, ta’dib, riyadhah, irsyad, tadris[8]. Semua istilah ini memiliki makna yang sama jika disebut salah satunya, sebab salah satu istilah itu sebenarnya mewakili istilah yang lain, yaitu:
a.      Tarbiyah
Dalam mu’jam bahasa arab kata al-tarbiyah memiliki tiga akar kebahasaan, yaitu :[9]
1.      Rabba, yarbû, tarbiyah: yang memiliki makna ‘tambah’ (zâd) dan ‘berkembang’ (nâmâ). Pengertian ini didasarkan pada QS.ar-Rum ayat 39:[10] “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.” Artinya, pendidikan (tarbiyah merupakan proses menumbuhkan dan mengembangkan apa yang ada pada peserta didik, baik secara fisik, psikis, sosial, maupun spiritual.
2.      Rabba, yarbû, tarbiyah: yang memiliki makna tumbuh (nasya’a) dan menjadi besar atau dewasa (tara’ra’a). Artinya pendidikan tarbiyah merupakan usaha untuk menumbuhkan dan mendewasakan peserta didik, baik secara fisik, psikis, sosial, maupun spiritual.
3.      Rabba, yarbû, tarbiyah: yang memiliki makna memperbaiki (ashlaha), menguasai urusan, memelihara, merawat, memperindah, memberi makan, mengasuh tuan, memiliki, mengatur, dan menjaga kelestarian maupun eksistensinya.[11] Artinya:, pendidikan tarbiyah merupakan usaha untuk memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki dan mengatur kehidupan peserta didik, agar ia dapat survise lebih baik dalam kehidupannya.
Tokoh yang mengajukan istilah al-tarbiyah ialah Muhammad Athiyah al-Abrasyi. Menurutnya, istilah al-tarbiyah mencakup keseluruhan aktivitas pendidikan, sebab di dalamnya tercakup upaya mempersiapkan individu untuk ehiupan yang lebih sempurna, mencapai kebahagiaan hidup. 
b.      Ta’lim
Ta’lim merupakan kata benda buatan (mashdar) yang berasal dari akar kata ‘allama. Sebagian ulama mengartikan ta’lim dengan pengajaran. Pengajaran ta’lim lebih mengarah kepada aspek kognitif, seperti pengajaran pendidikan matematika.
            Muhammad Rasyid Ridha mengartikan ta’lim dengan: “proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwaindidvidu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu”. Pengertian ini didasarkan pada firman Allah SWT. dalam QS. al-Baqarah 31: tentang ‘allama Tuhan kepada Nabi Adam as. Proses transmisi itu dilakukan secara bertahap sebagaimana Nabi Adam menyaksikan dan menganalisis asma’ ( nama-nama) yang diajarkan oleh Allah kepadanya. Firman Allah SWT. dalam surah al-Baqarah 31 : “Dan dia mengajarkan (‘allama) kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman : “sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jikaa kamu memang orang-orang yang benar.”
            Dalam QS. Al-Baqarah 151: “Dan mengajarkan (yu’allim) kepadamu Al-Kitab dan al-Hikmah (As-Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”. Ayat ini menunjukkan perintah Allah SWT. kepada rasul-Nya untuk mengajarkan (ta’lim) al-Kitab dan As-Sunnah kepada umatnya. Menrut Muhaimin, pengajaran pada ayat itu mencakup teoritis dan praktis ,sehingga peserta didik memperoleh kebijakan dan kemahiran melaksanakan hal-hal yang mendatangkan manfaat dan menampik kemudaratan. Pengajaran ini mencakup lmu pengetahuan dan al-hikmah (bijaksana). Toko yang mengajukan istilah ini adalah ‘Abdul Fatah Jalal. Menurutnya ta’lim ialah proses transmisi pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah, sehingga terjadi penyucian diri (tazkiyat al-nafs) manusia dari segala kotoran, serta menjadikan manusia itu dalam suatu kondisi yang memungkinkan untuk menerima hikmah (wisdom), serta mempelajari segala  apa yang bermanfaat baginya dan mempelajari apa yang tidak diketahui.
c.       Ta’dib
Ta’dib diterjemahkan dengan pendidikan sopan santun, tata krama, adab, budi pekerti, akhlak, moral, dan etika. Ta’dib memiliki arti peradaban atau kebudayaan. Artinya, orang yang berpendidikan ialah orang yang berperadaban, sebaliknya, perdaban yang berkualitasa dapat diraih melalui pendidikan. Menurut Naquib al-Attas, ta’dib berarti pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan kekuatan dan keagungan Tuhan. Pengertian ini didasarkan Hadist Nabi SAW :
“Tuhanku telah mendidikku, sehingga menjadikan baik pendidikanku.”
“aku diutus untuk memperbaiki kemuliaan akhlak.” (HR. Malik bin Anas dari anas bin Malik)
Kedua hadist tersebut menunjukkan bahwa kompetensi Muhammad sebagai seorang rsul dan misi utamanya adalah pembinaan akhlak. Karena itulah maka seluruh aktivitas pendidikna islam sseharusnya memiliki relevansi denagn peningkatan kualitas budi pekerti sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Ta’dib sebagai upaya dalam pembentukan adab (tata krama ) terbagi atas  macam,yaitu :
1.      Ta’dib adab al-haqq, pendidikan tata krama spiritual dalam kebenaran, yang memerlukan pengetahuan tentang wujud kebenaran, yang didalmnya segala yang ada memiliki kebenaran tersendiri dan yang dengannya segala sesuatu diciptakan.
2.      Ta’dib adab al-khidmah, pendidikan tata krama siritual dalam pengabdian. Sebagai seorang hamba, manusia harus mengabdi kepada sang Raja (Malik) dengan menempuh tata krama yang pantas.
3.      Ta’dib adab al-syari’ah, pendidikan tata krama spiritual dalam syariah,yang tata caranya telah digariskan oleh Tuhan melalui wahyu. Segala pemenuhan syariah Tuhan akan berimplikasi pada tata krama yang mulia.
4.      Ta’dib adab as-shuhbah,pendidikan  tata krama spiritual dalam persahabatan,berupa saling menghormati dan berperilaku mulia antar sesama.
Tokoh yang mengajukan istilah ini ialah Muhammad al-Naquid al-Attas. Menurutnya, istilah ta’dib paling cocok digunakan untuk peristilahan pendidikan islam. Dan ta’dib ini mencerminkan tujuan esensial pendidikan islam yang diajarkan oleh Rasullullah SAW. Atas dasar itu, Attas senang menggunakan istilah ta’dib.
d.      Riyadhah
Riyadhah secara bahasa diartikan dengan pengajaran dan pelatihan. Menurut al-Bastani, riyadhah dalam konteks pendidikan berarti mendidik jiwa anak dengan akhlak yang mulia. Riyadhah dalam arti tasawuf dan olahraga memiliki arti yang berbeda, yaitu dalam arti tasawuf riyadhah ialah latihan rohani dengan cara menyendiri pada hari-hari tertentu untuk melakukan ibadah dan tafakur mengenai hak kewajibannya. Sementara riyadhah dalam arti disiplin olahraga ialah latihan fisik untuk menyehatkan tubuh. Menurut al-Ghazali, kata riyadhah yang dinisbatkan kepada anak (shibyan/athfal),maka memiliki arti pelatihan atau pendidikan kepada anak. Dalam pendidikan anak, al-Ghazali lebih menekankan pada domain psikomotorik denagn cara melatih. Pelatiahan memiliki arti pembiasaan dan masa anak-anak masa yang paling cocok dengan metode pembiasan itu. Anak kecil yang terbiasa melakukan aktivitas yang positif maka di masa remaja dan dewasanya lebih mudah untuk berkepribadian yang sholeh.
Riyadhah dapat dibagi menjadi 2 macam,yaitu :
1.      Riyadhat al-jisim, pendidikan olahraga yang dilakukan melaui gerakan fisik atau pernapasan yang bertujuan untuk kesehatan jasmani manusia.
2.       Riyadhat an-nafs, pendidikan olah batin yang dilakukan melalui olah hati yang bertujuan untuk memperoleh kesadaran dan kualitas rohani.
Kedua riyadhah ini sangat penting,karena memelihara jiwa raga yang telah diberikan Allah SWT. kepadanya. Pendidikan olah jiwa lebih utama daripada pendidikan olahraga,karena jiwalah yang memberikan kelestarian eksistensi dan kemuliaan menusia dunia dan akhirat. Tokoh yang mengajukan istilah ini adalah Abu Hamid Muhammad al-Ghazali. Al-ghazali membatasi ruang lingkup riyadhah pada fase kanak-kanak,sehingga di sebut riyadhat al-shibyan atau riyadhat al-athfal (pendidikan untuk anak-anak).
            Seberapa pun besar perbedaan istilah yang dikemukakan oleh para ahli dalam perumusan peristilahan pendidikan islam pada prinsipnya mereka memiliki tujuan yang sama.
Peristilahan Terminologi Pendidikan Islam
            Pertama, Muhammad SA. Ibrahimi (Bangladesh) menyatakan bahwa pendidikan islam adalah “islamic education in true sense of the lern, is a system of education which enable a man to lead his life according to the islamic ideology, so that he may easily mould his life in accordance with tenest of islam.” (Pendidikan islam dalam pandangan yang sebenarnya adalah suatu sistem pendidikan yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi islam, sehingga dengan mudah ia dapat membentuk hidupnya sesuai dengan ajaran islam).
Kedua, Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibani mendefinisikan pendidikan islam denagn: “Proses megubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat alam dan sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi-profesi asasi dalam masyarakat.
Ketiga, Muhammad Fadhil al-Jamali mendefenisikan pengertian penididikan islam dengan: “Upaya mengembangkan, mendorong, serta mengajak manusia untuk lebih maju dengan berlandaskan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan maupun perbuatan.
Keempat, Muhammad Javed al-Sahlani dalam at-Tarbiyah wa at-Ta’lim al-Qur’an al-Karim mengartikan pendidikan islam dengan: “Proses mendekatkan manusia kepada tingkat kesempurnaan dan mengembangkan kemampuannya”.
Kelima, hasil seminar pendidikan islam se-Indonesia tahun 1960 dirumuskan pendidikan islam dengan: “bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran islam.[12]
B.     Tujuan Pendidikan Islam
Adapun tujuan pendidikan islam menurut beberapa sumber adalah :
a)      Menurut Imam Al-Ghazali(w.1111 M),yang telah disimpulkan oleh Fathiyah Hasan Sulaiman, pada dasarnya dua tujuan pokok adalah : (1) untuk mencapai kesempurnaan manusia dalam mendekatkan diri kepada tuhan; dan (2) sekaligus untuk mencapai kesempurnaan hidup manusia dalam menjalani hidup dan penghidupannya guna mencapai kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat[13]. (Dr.Djajar siddhi,MA)

b)      Menurut Ibnu Khaldun(1332-1406),yang telah disimplkan oleh Muhammad Athiyah al-Abrasyi,mempunyai dua tujuan pokok. Pertama,tujuan keagamaan yaitu beramal sesuai dengan tuntutan agama. Dan kedua,tujuan ilmiah,sebagai bekal hidup untuk mengharungi penghidupannya didunia ini.[14] (Dr.Dja’far Siddhiq, M.A.)

c)      Tujuan umum yang dimaksudkan adalah, “Beribadah kepada Allah.” Sementara tujuan khusus yang dimaksudkannya merupakan penjabaran dari tujuan khusus yang dimaksudkannya merupakan penjabaran dan tujuan umum tersebut dengan beberapa syarat: (1) merupakan refleksi dari filsafat islam dan tujuan umum pendidikan,(2) memperhatikan kondisi lingkungan alam,social dan ekonomi,(3) sesuai dengan kebutuhan perkembangan dan tuntutan zaman,(4) disesuaikan dengan pertumbuhan,kebutuhan,kemampuan,dan kondisi masyarakat secara khusus,(5) memperhatikan perkembangan fikiran dalam bidang pendidikan,dan terbuka untuk pemikiran-pemikiran baru yang berkembang. (Dr.Dja’far Siddhiq, M.A.)

d)     Dr.Zakiyah Darajat,dkk.
Tujuan pendidikan islam secara keseluruhan adalah untuk menjadikan seseorang menjadi “insan kamil.”
Ada beberapa tujuan pendidikan,yaitu :

1)      Tujuan Umum
Ialah tujuan yang akan dicapai dengan semua keiatan pendidikan,baik yang pengajaran atau dengan cara lain.

2)      Tujuan Akhir
Setelain mencapai tujuan umum(menjadi insan kamil),seseorang harus tetap memperoleh pendidikan,dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan,sekurang-kurangnya pemeliharaan supaya tidak luntur dan berkurang hingga mati sebagai muslim dan dalam keadaan berserah diri kepada Allah. Jadi,tujuan akhirnya ialah insan kamil yang mati dan akan menghadap tuhannya.

3)      Tujuan Sementara
Ialah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal.

4)      Tujuan Opersional
Ialah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu.

e)      Prof.H.M. Arifin,M.Ed.

Dilihat dari ilmu pendidikan teoritis,tujuan pendidikan ditempuh secara bertingkat,misalnya tujuan intermediet (sementara atau antara), yang dijadikanbatas sasaran kemampuan yang harus dicapai dalam proses pendidikan pada tingkat tertentu,untuk mencapai tujuan akhir.

















BAB III
Penutup
          Kata “pendidikan” yang umum kita gunakan sekarang dalam bahasa arab disebut “tarbiyah”, dengan kata kerja “rabba.”
          Pengertian pendidikan terbagi kepada dua, yaitu pengertian pendidikan secara luas dan pengertian pendidikan secara sempit. Alfred North Whitehead mengambil pengertian pendidikan yang sangat sempit. Ia menyatakan bahwa pendidikan adalah pembinaan keterampilan menggunakan pengetahuan (Park, 1990:253). Lodge (1974:23) menyatakan bahwa pendidikan dalam arti sempit malahan sekedar pendidikan di sekolah. Pengertian pendidikan secara luas ialah pengembangan pribadi dalam semua aspeknya, dengan penjelasan bahwa yang dimaksud pegembangan pribadi ialah yang mencakup pendidikan oleh diri sendiri, lingkungan, orang lain atau guru. Seluruh aspek mencakup jasmani, akal, hati.
          Secara umum tujuan pendidikan terbagi menjadi empat, yaitu :
1. Tujuan Umum
2. Tujuan Akhir
3. Tujuan Sementara
4. Tujuan Operasional








Daftar Pustaka
Al-Abrasyi, M. ‘Athiyah. 1970. Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta :               Bulan Bintang.
Al-Abrasyi, Muhammad ‘Atiyah. 1979. al-Tarbiyah al-Islamiiyah wa falasifatuha. Mesir : ‘Isa al-Babi al-Halabi.
al-Bastani, Karim, dkk. 1975. al-Munjid fi Lughah wa A’lam. Beirut: Dar al-Masyriq.
al-Garnathî, Muhammad Yusuf Abu Hayyan al-Andalusî. 1991. Tafsir Bahr Muhith. Beirut: dar al-Fikr al-Mu’âshir.
al-Nahlawi, Abd al-Rahman . 1988. Ushul al-Tabiyah al-Islamiyah wa Asalibuha. Damaskus: Dar al-Fikr.

al-Razî, Fahra. Tafsir Fahr al-Razi. Teheran: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah.

al-Syawkanî, Ali ibn Muhammad. Fath al-Qadir. Beirut: Dar al-Fikr.
al-Qurthubî, Ibn’Abd Allah Muhammad Ibn Ahmad al-Ansharî. Tafsir al-Qurthubî. Kairo: dar al-Sya’bi.
Arifin. 1993. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara.
Langgulung, Hasan. 1990. Kreativitas dan Pendidikan Islam Analisis Psikologi dan Falsafah.        Jakarta : Pustaka al Husna.
Manzhur, Abu al-Fadl al-Din Muhammad Mukarram ibn.  Lisan al-‘arab. Beirut : Dar Ahya’.

Mujib, Abdul, dkk. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kencana
Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama / IAIN di Jakarta. Direktorat Jenderal Pembinaan      Kelembgaan Agama Islam 1982/1983.
Siddik, Dja’far. 2006. Konsep Dasar Ilmu Pendidikan Islam. Bandung : Cuta Pustaka Media.
Siddik, Dja’far. 2007. Pendidikan Muhammadiyah Perspektif Ilmu Pendidikan. Bandung : Cita Pustaka Media.
Sulaiman, Fatyah Hasan. 1958. Mazâhib fi at-Tarbiyah: Bahs fi al-Mazâhib at-tarbawî ‘ind al-Ghazali. Mesir : Dâr al-Hana li at-tiba’ah wa an-nasr.
Tafsir, Ahmad. 2005. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Zakiah, Daradjat. 2000. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara.


[1] H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam  (Jakarta : Bumi Aksara, 1993), h. 8
[2] Proyek Pembinaan Perguruan  Tinggi Agama/ IAIN Jakarta. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam 1982/1983,  Ilmu Pndidikan Islam,  hal. 25
[3] Dja’far Siddik, Konsep Dasar Ilmu Pendidikan Islam ( Bandung: Cita Pustaka Media, 2006 ) hal. 22
[4] Dr. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam  (Bndung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005) hal.26
[5] Ibid 25                                                                                                          
[6] Ibid 24
[7] Dja’far Siddik, Konsep Dasar Ilmu Pendidikan Islam ( Bandung: Cita Pustaka Media, 2006 ) hal. 28
[8] Sekalipun kata irsyad (bimbingan) dan tadris (belajar) dapat digunakan sebagai peristilahan dalam pendidikan islam, tetapi dalm khazanah literatur pendidikan islam tidak ditemukan penggunaan istilah itu,sehingga pada buku ini keduanya tidak diuraikan secara khusus.
[9] Abu al-Fadl al-Din Muhammad Mukarram ibn Manzhur, Lisan al-‘arab, (Beirut : Dar Ahya’,tt.),jilid V,h. 94-96: Abd al-Rahman al-Nahlawi, Ushul al-Tabiyah al-Islamiyah wa Asalibuha, (Damaskus: Dar al-Fikr,1988),h. 12-13.
[10] Lihat: Fahr a al-Razî,,Tafsir Fahr al-Razi (Teheran: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah,tt.), juz I, h.151.
[11] Karim al-Bastani,dkk,al-Munjid fi Lughah wa A’lam, (Beirut: Dar al-Masyriq,1975), h.243-244. Ibn’Abd Allah Muhammad Ibn Ahmad al-Ansharî al-Qurthubî,Tafsir al-Qurthubî, (Kairo: dar al-Sya’bi,tt.),juz I ,h.120. Muhammad Yusuf Abu Hayyan al-Andalusî al-Garnathî,Tafsir Bahr Muhith, (Beirut: dar al-Fikr al-Mu’âshir,1991),juz I,h.56. Ali ibn Muhammad al-Syawkanî, Fath al-Qadir, ( Beirut: Dar al-Fikr,tt. ), jilid I,h.33 )
[12] Prof. Dr. Abdul Mujib, Mag, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2010) hal. 25-27
[13] Fatyah hasan sulaiman,Mazâhib fi at-Tarbiyah: Bahs fi al-Mazâhib at-tarbawî ‘ind al-Ghazali (Mesir Dâr al-Hana li at-tiba’ah wa an-nasr, 1958), h. 16
[14] Muhammad ‘Atiyah Al-Abrasyi,al-Tarbiyah al-Islamiiyah wa falasifatuha,(Mesir: ‘Isa al-Babi al-Halabi,1979),h.284

No comments: