BAB I
Pendahuluan
Dilihat dari segi tujuan Agama Islam
diturunkan Allah kepada manusian melalui utusan-Nya tidak lain adalah untuk
menjadi rahmat bagi sekalian alam.
Tujuan tersebut mengandung implikasi
bahwa Islam sebagai Agama wahyu mengandung petunjuk dan peraturan yang bersifat
menyeluruh, di mana sekalian alam ini akan memeroleh rahmat secara menyeluruh,
meliputi kehidupan duniawi dan ukhrawi, lahiriah dan batiniah, jasmaniah dan
rohaniah.
Sebagai agama yang mengandung
tuntutan yang komprehensif, Islam membawa sistem nilai-nilai yang dapat menjadikan hamba Allah mampu menikmati
hidupnya dalam situasi dan kondisi serta dalam ruang dan waktu. Kehendak
khaliknya seperti tercermin di dalam segala ketentuan syari’at Islam serta
aqidah yang mendasarinya.
Suatu pola kehidupan yang ideal
demikian itulah yang hendak dibentuk melalui proses kependidikan yang
dikehendaki oleh Islam. Dilihat dari segi metodologis, proses kependidikan
Islam demikian adalah adalah tujan akhir yang hendak dicapai secara bertahap
dalam pribadi manusia. Dengan istilah lain bahwa pendidikan Islam melakukan
internalisasi ajaran Islam secara bertahap ke dalam pribadi manusia yang
berlangsung sesuai tingkat perkembangannya.
Dengan demikian, proses pendidikan
Islam bertugas pokok membentuk
kepribadian Islam dalam diri manusia selakumakhluk individual dan sosial. Untuk
tujuan ini, proses kependidikan Islam memerlukan sistem pendekatan yang secara
strategis dapat dipertanggungjawabkan
dari segi pedagogis. Dalam hubungan inilah, Pendidikan Islam memerlukan
barbagai ilmu pengetahuan yang relevan dengan tugasnya termasuk sistem
pendekatannya.
Pandangan dasar yang dapat
mengarahkan Pendidikan Islam kejenjang keberhasilan, merupakan prasyarat yang
perlu dipenuhi melalui berbagai daya dan upaya ilmiah. Prasyarat demikian
diwujudkan dalam bentuk pemikiran-pemikiran teoritis dan praktis yang berlanjut
dengan pembentukan “sistem keilmuan” kependidikan Islam yang bulat.[1]
BAB
II
Pengertian dan Tujuan Pendidikan Islam
Pengertian dan Tujuan Pendidikan Islam
A.
Pengertian Pendidikan Islam
Kata “pendidikan” yang umum kita
gunakan sekarang dalam bahasa arab disebut “tarbiyah”, dengan kata kerja
“rabba”. Kata “pengajaran” dalam bahasa arabnya “ta’lim” dengan kata
kerjanya “ ‘allama”. Pendidikan dan Pengajaran dalam bahasa Arabnya “tarbiyah
wa ta’lim” sedangkan “Pendidikan Islam” dalam bahasa arabnya “Tarbiyah
Islamiyah”.[2]
Atas dasar itulah, al-Attas menyatakan bahwa pengertian pendidikan islam dalam
pengertian yang komprehensif sudah tercakup dalam istilah ta’dib sehingga
tak perlu lagi mengacu pada istilah tarbiyah,ta’lim, dan ta’dib
sekaligus, sebagaimana pernah disarankan dalam Komprehensi Dunia
Pendidikakn Islam yang pertama di Makkah pada tahun 1997 yang lalu.[3]
Pengertian pendidikan terbagi kepada
dua, yaitu pengertian pendidikan secara luas dan pengertian pendidikan secara
sempit. Alfred North Whitehead mengambil pengertian pendidikan yang sangat
sempit. Ia menyatakan bahwa pendidikan adalah pembinaan keterampilan
menggunakan pengetahuan (Park, 1990:253). Lodge (1974:23) menyatakan bahwa
pendidikan dalam arti sempit malahan sekedar pendidikan di sekolah. Pengertian
pendidikan secara luas ialah pengembangan pribadi dalam semua aspeknya, dengan
penjelasan bahwa yang dimaksud pegembangan pribadi ialah yang mencakup pendidikan
oleh diri sendiri, lingkungan, orang lain atau guru. Seluruh aspek mencakup
jasmani, akal, hati.[4]
Marimba (1989:19) menyatakan bahwa
pendidikan ialah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap
perkembangan jasmani dan rohani. Tapi, defenisi pendidikan menurut Marimba ini
belum mencakup semua yang kita kenal sebagai pendidikan. Defenisi itu mencukupi
bila kita membatasi pendidikan hanyalah yang berupa pengaruh seseorang kepada
orang lain, dengan sengaja (sadar).[5]
Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa
pendidikan adalah usaha yang dilakukan seseorang (pendidik) terhadap seseorang
(anak didik) agar tercapai perkembangan maksimal yang positif.
Kata “ islam”
dalam “pendidikan islam” menunjukkan warna pendidikan tertentu, yaitu
pendidikan yang berwarna islam, pendidikan yang islami, yaitu pendidikan yang
berdasarkan islam.[6]
Seminar Pendidikan Islam di
Indonesia yang dilaksanakan oleh Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta
( BKS-PTIS ) Di Jakarta tahun 1979 membuat rumusan tentang pengertian
pendidikan islam sebagai berikut :
“Pendidikan Islam ialah usaha yang
berlandaskan al-islam untuk membantu manusia dalam mengembangkan dan
mendewasakan kepribadiannya,baik jasmaniah maupun rohaniah untuk memikul
tanggung jawab memenuhi tuntuna zamannya dan masa depannya.”
Definisi di atas pada dasarnya
hampir tidak berbeda dengan defenisi-defenisi yang di ajukan oleh pakar
pendidikan pada umumnya, kecuali hanya menambahkan bahwa pendidikan yang
dimaksudkan berlandaskan pada ajaran islam. Tetapi suatu hal yang perlu di catat
disini ialah,bahwa kedewasaan yang dimaksudkan di sana adalah kedewasaan
“kepribadian” dan bukan sekedar kedewasaan fisik.
Hakikat pendidikan islam adalah
terbinanya kesempurnaan kepribadian peserta didik, yang disebut sebagai
kepribadian al-Fadhilah, yaitu suatu kepribadian yang meneladani
nilai-nilai kepribadian yang dicontohkan oleh Nabi SAW, baik sebagai pandangan
hidup maupun keterampilan hidup untuk menumbuhkan potensi rohaniyah dan
jasmaniyah yang dimiliki peserta didik.[7]
Pengertian Etimologi Pendidikan Islam
Pendidikan dalam wacana keislaman
lebih populer dengan istilah tarbiyah, ta’lim, ta’dib, riyadhah,
irsyad, tadris[8].
Semua istilah ini memiliki makna yang sama jika disebut salah satunya, sebab
salah satu istilah itu sebenarnya mewakili istilah yang lain, yaitu:
a.
Tarbiyah
Dalam mu’jam bahasa arab kata
al-tarbiyah memiliki tiga akar kebahasaan, yaitu :[9]
1.
Rabba,
yarbû, tarbiyah: yang memiliki makna ‘tambah’ (zâd) dan ‘berkembang’ (nâmâ).
Pengertian ini didasarkan pada QS.ar-Rum ayat 39:[10]
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta
manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.” Artinya, pendidikan
(tarbiyah merupakan proses menumbuhkan dan mengembangkan apa yang ada pada
peserta didik, baik secara fisik, psikis, sosial, maupun spiritual.
2.
Rabba,
yarbû, tarbiyah: yang memiliki makna tumbuh (nasya’a) dan menjadi besar atau
dewasa (tara’ra’a). Artinya pendidikan tarbiyah merupakan usaha untuk
menumbuhkan dan mendewasakan peserta didik, baik secara fisik, psikis, sosial,
maupun spiritual.
3.
Rabba,
yarbû, tarbiyah: yang memiliki makna memperbaiki (ashlaha), menguasai urusan,
memelihara, merawat, memperindah, memberi makan, mengasuh tuan, memiliki,
mengatur, dan menjaga kelestarian maupun eksistensinya.[11]
Artinya:, pendidikan tarbiyah merupakan usaha untuk memelihara, mengasuh,
merawat, memperbaiki dan mengatur kehidupan peserta didik, agar ia dapat
survise lebih baik dalam kehidupannya.
Tokoh yang mengajukan istilah
al-tarbiyah ialah Muhammad Athiyah al-Abrasyi. Menurutnya, istilah al-tarbiyah
mencakup keseluruhan aktivitas pendidikan, sebab di dalamnya tercakup upaya
mempersiapkan individu untuk ehiupan yang lebih sempurna, mencapai kebahagiaan
hidup.
b.
Ta’lim
Ta’lim merupakan kata benda buatan
(mashdar) yang berasal dari akar kata ‘allama. Sebagian ulama mengartikan
ta’lim dengan pengajaran. Pengajaran ta’lim lebih mengarah kepada aspek
kognitif, seperti pengajaran pendidikan matematika.
Muhammad Rasyid
Ridha mengartikan ta’lim dengan: “proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan
pada jiwaindidvidu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu”. Pengertian ini
didasarkan pada firman Allah SWT. dalam QS. al-Baqarah 31: tentang ‘allama
Tuhan kepada Nabi Adam as. Proses transmisi itu dilakukan secara bertahap sebagaimana
Nabi Adam menyaksikan dan menganalisis asma’ ( nama-nama) yang diajarkan oleh
Allah kepadanya. Firman Allah SWT. dalam surah al-Baqarah 31 : “Dan dia
mengajarkan (‘allama) kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian
mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman : “sebutkanlah kepada-Ku
nama benda-benda itu jikaa kamu memang orang-orang yang benar.”
Dalam QS.
Al-Baqarah 151: “Dan mengajarkan (yu’allim) kepadamu Al-Kitab dan al-Hikmah
(As-Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”. Ayat
ini menunjukkan perintah Allah SWT. kepada rasul-Nya untuk mengajarkan (ta’lim)
al-Kitab dan As-Sunnah kepada umatnya. Menrut Muhaimin, pengajaran pada ayat
itu mencakup teoritis dan praktis ,sehingga peserta didik memperoleh kebijakan
dan kemahiran melaksanakan hal-hal yang mendatangkan manfaat dan menampik
kemudaratan. Pengajaran ini mencakup lmu pengetahuan dan al-hikmah (bijaksana).
Toko yang mengajukan istilah ini adalah ‘Abdul Fatah Jalal. Menurutnya ta’lim
ialah proses transmisi pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan
penanaman amanah, sehingga terjadi penyucian diri (tazkiyat al-nafs) manusia
dari segala kotoran, serta menjadikan manusia itu dalam suatu kondisi yang
memungkinkan untuk menerima hikmah (wisdom), serta mempelajari segala apa yang bermanfaat baginya dan mempelajari
apa yang tidak diketahui.
c.
Ta’dib
Ta’dib diterjemahkan dengan
pendidikan sopan santun, tata krama, adab, budi pekerti, akhlak, moral, dan
etika. Ta’dib memiliki arti peradaban atau kebudayaan. Artinya, orang yang
berpendidikan ialah orang yang berperadaban, sebaliknya, perdaban yang
berkualitasa dapat diraih melalui pendidikan. Menurut Naquib al-Attas, ta’dib
berarti pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada
manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan
penciptaan, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan kekuatan dan
keagungan Tuhan. Pengertian ini didasarkan Hadist Nabi SAW :
“Tuhanku telah mendidikku, sehingga menjadikan
baik pendidikanku.”
“aku diutus untuk memperbaiki
kemuliaan akhlak.” (HR. Malik bin Anas dari anas bin Malik)
Kedua hadist tersebut menunjukkan
bahwa kompetensi Muhammad sebagai seorang rsul dan misi utamanya adalah
pembinaan akhlak. Karena itulah maka seluruh aktivitas pendidikna islam
sseharusnya memiliki relevansi denagn peningkatan kualitas budi pekerti
sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Ta’dib sebagai upaya dalam
pembentukan adab (tata krama ) terbagi atas
macam,yaitu :
1.
Ta’dib
adab al-haqq, pendidikan
tata krama spiritual dalam kebenaran, yang memerlukan pengetahuan tentang wujud
kebenaran, yang didalmnya segala yang ada memiliki kebenaran tersendiri dan
yang dengannya segala sesuatu diciptakan.
2.
Ta’dib
adab al-khidmah, pendidikan
tata krama siritual dalam pengabdian. Sebagai seorang hamba, manusia harus
mengabdi kepada sang Raja (Malik) dengan menempuh tata krama yang pantas.
3.
Ta’dib
adab al-syari’ah,
pendidikan tata krama spiritual dalam syariah,yang tata caranya telah digariskan
oleh Tuhan melalui wahyu. Segala pemenuhan syariah Tuhan akan berimplikasi pada
tata krama yang mulia.
4.
Ta’dib
adab as-shuhbah,pendidikan tata krama spiritual dalam
persahabatan,berupa saling menghormati dan berperilaku mulia antar sesama.
Tokoh yang mengajukan istilah ini
ialah Muhammad al-Naquid al-Attas. Menurutnya, istilah ta’dib paling cocok
digunakan untuk peristilahan pendidikan islam. Dan ta’dib ini mencerminkan
tujuan esensial pendidikan islam yang diajarkan oleh Rasullullah SAW. Atas dasar
itu, Attas senang menggunakan istilah ta’dib.
d.
Riyadhah
Riyadhah secara bahasa diartikan
dengan pengajaran dan pelatihan. Menurut al-Bastani, riyadhah dalam konteks
pendidikan berarti mendidik jiwa anak dengan akhlak yang mulia. Riyadhah dalam
arti tasawuf dan olahraga memiliki arti yang berbeda, yaitu dalam arti tasawuf
riyadhah ialah latihan rohani dengan cara menyendiri pada hari-hari tertentu
untuk melakukan ibadah dan tafakur mengenai hak kewajibannya. Sementara
riyadhah dalam arti disiplin olahraga ialah latihan fisik untuk menyehatkan
tubuh. Menurut al-Ghazali, kata riyadhah yang dinisbatkan kepada anak
(shibyan/athfal),maka memiliki arti pelatihan atau pendidikan kepada anak.
Dalam pendidikan anak, al-Ghazali lebih menekankan pada domain psikomotorik
denagn cara melatih. Pelatiahan memiliki arti pembiasaan dan masa anak-anak
masa yang paling cocok dengan metode pembiasan itu. Anak kecil yang terbiasa
melakukan aktivitas yang positif maka di masa remaja dan dewasanya lebih mudah
untuk berkepribadian yang sholeh.
Riyadhah dapat dibagi menjadi 2
macam,yaitu :
1.
Riyadhat
al-jisim, pendidikan
olahraga yang dilakukan melaui gerakan fisik atau pernapasan yang bertujuan
untuk kesehatan jasmani manusia.
2.
Riyadhat an-nafs, pendidikan olah batin
yang dilakukan melalui olah hati yang bertujuan untuk memperoleh kesadaran dan
kualitas rohani.
Kedua riyadhah ini sangat
penting,karena memelihara jiwa raga yang telah diberikan Allah SWT. kepadanya.
Pendidikan olah jiwa lebih utama daripada pendidikan olahraga,karena jiwalah
yang memberikan kelestarian eksistensi dan kemuliaan menusia dunia dan akhirat.
Tokoh yang mengajukan istilah ini adalah Abu Hamid Muhammad al-Ghazali.
Al-ghazali membatasi ruang lingkup riyadhah pada fase kanak-kanak,sehingga di
sebut riyadhat al-shibyan atau riyadhat al-athfal (pendidikan untuk anak-anak).
Seberapa pun besar
perbedaan istilah yang dikemukakan oleh para ahli dalam perumusan peristilahan
pendidikan islam pada prinsipnya mereka memiliki tujuan yang sama.
Peristilahan Terminologi Pendidikan Islam
Pertama,
Muhammad SA. Ibrahimi (Bangladesh) menyatakan bahwa pendidikan islam adalah
“islamic education in true sense of the lern, is a system of education which
enable a man to lead his life according to the islamic ideology, so that he may
easily mould his life in accordance with tenest of islam.” (Pendidikan islam
dalam pandangan yang sebenarnya adalah suatu sistem pendidikan yang
memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi
islam, sehingga dengan mudah ia dapat membentuk hidupnya sesuai dengan ajaran
islam).
Kedua, Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibani mendefinisikan pendidikan islam
denagn: “Proses megubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi,
masyarakat alam dan sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas
asasi dan sebagai profesi-profesi asasi dalam masyarakat.
Ketiga, Muhammad Fadhil al-Jamali mendefenisikan pengertian penididikan
islam dengan: “Upaya mengembangkan, mendorong, serta mengajak manusia untuk
lebih maju dengan berlandaskan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang
mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan
dengan akal, perasaan maupun perbuatan.
Keempat, Muhammad Javed al-Sahlani dalam at-Tarbiyah wa at-Ta’lim al-Qur’an
al-Karim mengartikan pendidikan islam dengan: “Proses mendekatkan manusia
kepada tingkat kesempurnaan dan mengembangkan kemampuannya”.
Kelima, hasil seminar pendidikan islam se-Indonesia tahun 1960 dirumuskan
pendidikan islam dengan: “bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani
menurut ajaran islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh,
dan mengawasi berlakunya semua ajaran islam.[12]
B.
Tujuan
Pendidikan Islam
Adapun tujuan pendidikan islam menurut beberapa sumber adalah :
a) Menurut
Imam Al-Ghazali(w.1111 M),yang telah disimpulkan oleh Fathiyah Hasan Sulaiman,
pada dasarnya dua tujuan pokok adalah : (1) untuk mencapai kesempurnaan manusia
dalam mendekatkan diri kepada tuhan; dan (2) sekaligus untuk mencapai
kesempurnaan hidup manusia dalam menjalani hidup dan penghidupannya guna
mencapai kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat[13].
(Dr.Djajar siddhi,MA)
b) Menurut
Ibnu Khaldun(1332-1406),yang telah disimplkan oleh Muhammad Athiyah
al-Abrasyi,mempunyai dua tujuan pokok. Pertama,tujuan keagamaan yaitu beramal sesuai
dengan tuntutan agama. Dan kedua,tujuan ilmiah,sebagai bekal hidup untuk
mengharungi penghidupannya didunia ini.[14]
(Dr.Dja’far Siddhiq, M.A.)
c) Tujuan
umum yang dimaksudkan adalah, “Beribadah kepada Allah.” Sementara tujuan khusus
yang dimaksudkannya merupakan penjabaran dari tujuan khusus yang dimaksudkannya
merupakan penjabaran dan tujuan umum tersebut dengan beberapa syarat: (1)
merupakan refleksi dari filsafat islam dan tujuan umum pendidikan,(2)
memperhatikan kondisi lingkungan alam,social dan ekonomi,(3) sesuai dengan
kebutuhan perkembangan dan tuntutan zaman,(4) disesuaikan dengan
pertumbuhan,kebutuhan,kemampuan,dan kondisi masyarakat secara khusus,(5)
memperhatikan perkembangan fikiran dalam bidang pendidikan,dan terbuka untuk
pemikiran-pemikiran baru yang berkembang. (Dr.Dja’far Siddhiq, M.A.)
d) Dr.Zakiyah
Darajat,dkk.
Tujuan
pendidikan islam secara keseluruhan adalah untuk menjadikan seseorang menjadi
“insan kamil.”
Ada
beberapa tujuan pendidikan,yaitu :
1) Tujuan
Umum
Ialah tujuan yang akan dicapai
dengan semua keiatan pendidikan,baik yang pengajaran atau dengan cara lain.
2) Tujuan
Akhir
Setelain mencapai
tujuan umum(menjadi insan kamil),seseorang harus tetap memperoleh
pendidikan,dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan,sekurang-kurangnya pemeliharaan
supaya tidak luntur dan berkurang hingga mati sebagai muslim dan dalam keadaan
berserah diri kepada Allah. Jadi,tujuan akhirnya ialah insan kamil yang mati
dan akan menghadap tuhannya.
3) Tujuan
Sementara
Ialah tujuan yang akan
dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang
direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal.
4) Tujuan
Opersional
Ialah tujuan praktis
yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu.
e) Prof.H.M.
Arifin,M.Ed.
Dilihat
dari ilmu pendidikan teoritis,tujuan pendidikan ditempuh secara
bertingkat,misalnya tujuan intermediet (sementara atau antara), yang
dijadikanbatas sasaran kemampuan yang harus dicapai dalam proses pendidikan
pada tingkat tertentu,untuk mencapai tujuan akhir.
BAB
III
Penutup
Penutup
Kata “pendidikan” yang
umum kita gunakan sekarang dalam bahasa arab disebut “tarbiyah”, dengan kata
kerja “rabba.”
Pengertian
pendidikan terbagi kepada dua, yaitu pengertian pendidikan secara luas dan
pengertian pendidikan secara sempit. Alfred North Whitehead mengambil
pengertian pendidikan yang sangat sempit. Ia menyatakan bahwa pendidikan adalah
pembinaan keterampilan menggunakan pengetahuan (Park, 1990:253). Lodge
(1974:23) menyatakan bahwa pendidikan dalam arti sempit malahan sekedar
pendidikan di sekolah. Pengertian pendidikan secara luas ialah pengembangan
pribadi dalam semua aspeknya, dengan penjelasan bahwa yang dimaksud pegembangan
pribadi ialah yang mencakup pendidikan oleh diri sendiri, lingkungan, orang
lain atau guru. Seluruh aspek mencakup jasmani, akal, hati.
Secara umum tujuan
pendidikan terbagi menjadi empat, yaitu :
1.
Tujuan
Umum
2.
Tujuan
Akhir
3.
Tujuan
Sementara
4.
Tujuan
Operasional
Daftar
Pustaka
Al-Abrasyi,
M. ‘Athiyah. 1970. Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta : Bulan Bintang.
Al-Abrasyi,
Muhammad ‘Atiyah. 1979. al-Tarbiyah al-Islamiiyah wa falasifatuha. Mesir : ‘Isa
al-Babi al-Halabi.
al-Bastani,
Karim, dkk. 1975. al-Munjid fi Lughah wa A’lam. Beirut: Dar al-Masyriq.
al-Garnathî,
Muhammad Yusuf Abu Hayyan al-Andalusî. 1991. Tafsir Bahr Muhith. Beirut:
dar al-Fikr al-Mu’âshir.
al-Nahlawi,
Abd al-Rahman . 1988. Ushul al-Tabiyah al-Islamiyah wa Asalibuha.
Damaskus: Dar al-Fikr.
al-Razî, Fahra. Tafsir
Fahr al-Razi. Teheran: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah.
al-Syawkanî, Ali ibn Muhammad. Fath
al-Qadir. Beirut: Dar al-Fikr.
al-Qurthubî,
Ibn’Abd Allah Muhammad Ibn Ahmad al-Ansharî. Tafsir al-Qurthubî. Kairo:
dar al-Sya’bi.
Arifin. 1993. Ilmu Pendidikan
Islam. Jakarta : Bumi Aksara.
Langgulung,
Hasan. 1990. Kreativitas dan Pendidikan Islam Analisis Psikologi dan
Falsafah. Jakarta : Pustaka al
Husna.
Manzhur,
Abu al-Fadl al-Din Muhammad Mukarram ibn. Lisan al-‘arab. Beirut : Dar Ahya’.
Mujib, Abdul, dkk. 2010. Ilmu
Pendidikan Islam. Jakarta : Kencana
Proyek
Pembinaan Perguruan Tinggi Agama / IAIN di Jakarta. Direktorat Jenderal
Pembinaan Kelembgaan Agama Islam
1982/1983.
Siddik,
Dja’far. 2006. Konsep Dasar Ilmu Pendidikan Islam. Bandung : Cuta
Pustaka Media.
Siddik,
Dja’far. 2007. Pendidikan Muhammadiyah Perspektif Ilmu Pendidikan.
Bandung : Cita Pustaka Media.
Sulaiman,
Fatyah Hasan. 1958. Mazâhib fi at-Tarbiyah: Bahs fi al-Mazâhib at-tarbawî
‘ind al-Ghazali. Mesir : Dâr al-Hana li at-tiba’ah wa an-nasr.
Tafsir,
Ahmad. 2005. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya.
Zakiah, Daradjat. 2000. Ilmu
Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara.
[2]
Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama/
IAIN Jakarta.
Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam 1982/1983, Ilmu Pndidikan Islam, hal. 25
[3]
Dja’far Siddik, Konsep Dasar Ilmu Pendidikan Islam ( Bandung: Cita
Pustaka Media, 2006 ) hal. 22
[4] Dr.
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam (Bndung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005) hal.26
[5] Ibid
25
[6] Ibid
24
[7]
Dja’far Siddik, Konsep Dasar Ilmu Pendidikan Islam ( Bandung: Cita
Pustaka Media, 2006 ) hal. 28
[8]
Sekalipun kata irsyad (bimbingan) dan tadris (belajar) dapat
digunakan sebagai peristilahan dalam pendidikan islam, tetapi dalm khazanah
literatur pendidikan islam tidak ditemukan penggunaan istilah itu,sehingga pada
buku ini keduanya tidak diuraikan secara khusus.
[9] Abu
al-Fadl al-Din Muhammad Mukarram ibn Manzhur, Lisan al-‘arab, (Beirut :
Dar Ahya’,tt.),jilid V,h. 94-96: Abd al-Rahman al-Nahlawi, Ushul al-Tabiyah
al-Islamiyah wa Asalibuha, (Damaskus: Dar al-Fikr,1988),h. 12-13.
[10]
Lihat: Fahr a al-Razî,,Tafsir Fahr al-Razi (Teheran: Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyah,tt.), juz I, h.151.
[11]
Karim al-Bastani,dkk,al-Munjid fi Lughah wa A’lam, (Beirut: Dar
al-Masyriq,1975), h.243-244. Ibn’Abd Allah Muhammad Ibn Ahmad al-Ansharî
al-Qurthubî,Tafsir al-Qurthubî, (Kairo: dar al-Sya’bi,tt.),juz I ,h.120.
Muhammad Yusuf Abu Hayyan al-Andalusî al-Garnathî,Tafsir Bahr Muhith, (Beirut:
dar al-Fikr al-Mu’âshir,1991),juz I,h.56. Ali ibn Muhammad al-Syawkanî, Fath al-Qadir,
( Beirut: Dar
al-Fikr,tt. ), jilid I,h.33 )
[12] Prof. Dr. Abdul
Mujib, Mag, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2010) hal. 25-27
[13]
Fatyah hasan sulaiman,Mazâhib fi at-Tarbiyah: Bahs fi al-Mazâhib at-tarbawî ‘ind al-Ghazali (Mesir
Dâr al-Hana li at-tiba’ah wa an-nasr, 1958), h. 16
[14] Muhammad ‘Atiyah Al-Abrasyi,al-Tarbiyah al-Islamiiyah wa
falasifatuha,(Mesir: ‘Isa al-Babi al-Halabi,1979),h.284
No comments:
Post a Comment